Genap SNI, Konsumen Cerdas Pun Terlindungi

15 Apr 2016

      

Logo Standar Nasional Indonesia/SNI ini harus diamati keberadaannya di setiap kemasan produk yang beredar di Indonesia (Sumber Ilustrasi 1)

Ternyata Ada SNI di Kehidupan Kita Sehari-hari

Satu pagi, saat sarapan saya mendengar percakapan di meja makan. Adik saya meminta uang saku lebih ke Ayah. “Untuk apa?” tanya Ayah. “Bukannya sudah bayaran kuliah kemarin?” Jawab adik saya yang masih kuliah semester 8 saat itu, “Beli helm (motor) baru, Pak. Yang lama sudah rusak.”

“Beli yang kuat dan aman sekalian. Helmnya juga harus yang sudah ada label SNI” kata Ayah sambil membuka dompetnya. “Enggak apa-apa mahal. Yang penting helmnya sudah sesuai standar pemerintah,” tambah beliau ketika menyodorkan beberapa lembaran uang kertas ke adik saya.

Di lain waktu, saya dan teman-teman kantor ingin membeli kado untuk peringatan ulang tahun pertama seorang rekan kerja. Jadilah kami berburu mainan anak yang menarik dan edukatif. Berhubung patungan belinya, harga mainan tentu disesuaikan dengan dana yang ada.

Saat memilih koleksi mainan yang ada di satu toko mainan yang cukup ramai pembelinya, wajarlah ketika penjual mainan menunjukkan produk terbaik yang dijual di tokonya. Sebelumnya, para pelayan toko bertanya tentang usia dan jenis kelamin anak. Uniknya, baik pelayan maupun pemilik toko mainan berulangkali mengatakan kepada para konsumen, “Produk mainan yang kami jual di sini semuanya sudah berlabel SNI. Jadi aman untuk anak-anak.”

Penasaran, saya dan teman pun memeriksa beberapa mainan yang ada. Dan memang benar. Logo SNI jelas tertera di kemasan mainan. “Anak-anak kan suka memasukkan mainan ke mulutnya. Kalau cat mainannya belum sesuai SNI, bisa-bisa dia keracunan. Kalau sudah begitu, gawat! Toko saya bisa dituntut orang tuanya dan nanti ditutup (oleh polisi),” ujar pemilik toko saat mengetahui kami memastikan adanya label SNI.

Mainan anak ternyata juga harus sesuai dengan SNI dan memiliki nomor resmi SNI(Sumber Ilustrasi 2)

Percakapan itu kemudian menyadarkan saya. Ternyata Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) itu tidak hanya berlaku untuk produk makanan saja. Selama ini saya lebih peduli tentang pelabelan pada produk pangan dan kecantikan, terutama kosmetik. Maklumlah, namanya juga konsumen wanita. Padahal, setiap konsumen idealnya harus tahu bahwa SNI itu ada untuk melindungi pembeli.

Standar Nasional Ada Agar Konsumen di Indonesia Menjadi Raja

Mungkin masih ada – bahkan banyak sepertinya - konsumen di Indonesia yang berpikir, kenapa SNI itu kini semakin penting? Apakah label halal dan aman serta adanya tanggal kadaluarsa saja belum cukup bagi konsumen? Jangan-jangan biaya pengurusan SNI yang dikeluarkan oleh produsen akan dibebankan ke konsumen? Wah, nanti harganya jadi mahal. Tapi, kalau tanpa SNI, apa produknya aman? Dilematis bukan?

Ungkapan “konsumen adalah raja” bukanlah hal yang baru. Saya senang mengutip kalimat bijak ini tentang proses jual-beli antara konsumen dan produsen : “Selling is Helping.” Tepat sekali, menjual itu sejatinya adalah saling menolong antara penjual dan pembeli. Penjual memperoleh dana agar bisnisnya terus berjalan dan pembeli mendapat barang ataupun jasa untuk menunjang kelancaran hidupnya. Jadi, baik produsen maupun konsumen sama-sama diuntungkan.

Sayangnya, fakta dan realita di masyarakat tidaklah selalu demikian. Masih saja terjadi kerugian di pihak konsumen karena kualitas produk dan jasa yang tidak sesuai standar. Paling sederhananya adalah kasus keracunan makanan maupun minuman. Menurut WHO (World Health Organization) – badan PBB untuk kesehatan – di dunia, setiap tahun ada ada dua juta kasus keracunan makanan dan minuman yang menyebabkan kematian. Sementara itu, di Indonesia setiap tahunnya terjadi sekitar 200 kasus keracunan makanan dan minuman.

Sebagai konsumen, saya tentunya berharap agar semua produk dan jasa di Indonesia telah memiliki SNI. Bukan apa-apa. Saya pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan saat membeli roti tawar sekitar sebulan lalu. Saya biasanya memang membeli roti tawar dari beberapa perusahaan roti (bakery) yang sudah memiliki nama besar. Pengalaman saya selama ini, roti masih bisa layak dan enak dikonsumsi hingga tanggal kadaluarsa yang tertera dalam suhu kamar atau tidak ditaruh di kulkas.

Produk barang dan jasa di Indonesia yang telah memiliki SNI akan menguntungkan baik konsumen maupun produsen (Sumber Ilustrasi 3)

Satu waktu, saya tertarik untuk membeli roti tawar dari IRT (industri rumah tangga) atau UKM. Kalau kualitasnya oke, saya berniat untuk lebih sering membelinya di kemudian hari. Harganya pun tak jauh berbeda dengan roti dari perusahaan besar. Memang roti itu sedikit lebih murah.

Apa daya, harapan tinggal harapan. Jangankan untuk membeli ulang, roti itu sudah berjamur dua hari kemudian! Jadi roti sudah busuk bahkan empat hari sebelum masa kadaluarsanya berakhir. Padahal, saat saya beli, roti itu baru saja diantarkan dari produsennya ke supermarket tempat saya membelinya. Khawatir malah keracunan, roti yang baru saya makan empat lembar itu pun saya buang semua sisanya.

Saat saya cek ke situs resmi pemerintah yang mengurus sertifikasi SNI yaitu BSN (Badan Standardisasi Nasional), roti termasuk produk makanan dengan SNI yang masih berlaku yaitu SNI bernomor 3840 (SNI 01-3840-1995). Saya kini lantas berpikir, mungkinkah produk roti dari perusahaan besar itu sudah sesuai standar SNI sedangkan roti dari IRT belum sehingga kualitasnya jauh berbeda.

Belum lagi dengan tepung terigu yang digunakan untuk membuat roti. Seperti halnya roti, tepung terigu juga sudah memiliki SNI yang masih berlaku yaitu SNI tepung terigu untuk bahan makanan (SNI 3571: 2009). Untuk beberapa tepung terigu bermerk, saya memang sudah melihat logo SNI di kemasan mereka. Tapi, bagaimana dengan tepung terigu curah yang dijual di pasaran ya? Apakah sudah sesuai SNI?

Kedua merk roti tawar yang saya pernah konsumsi itu merupakan merk lokal atau produksi dalam negeri. Saya memang lebih memilih untuk membeli produk lokal sebagai bentuk dukungan kepada pengusaha nasional di Indonesia. Memang tidak dipungkiri, acapkali orang lebih memilih merk asing dengan alasan lebih berkualitas. Tapi, berulangkali saya temui, produk dalam negeri pun tak kalah kualitasnya.

Konsumen cerdas harus jeli membaca label kemasan, terutama adanya logo SNI, BPOM dan LPPOM-MUI/sertifikasi halal seperti yang tercantum pada variasi kemasan mie instan di atas (Dokumen Pribadi)

Sayangnya, masih saja ada perbedaan kualitas antar produk dalam negeri karena produsen belum menyadari pentingnya SNI. Begitu pula dengan konsumen di Indonesia. Saya tak menampik kenyataan bahwa produk ber-SNI umumnya memang (sedikit) lebih mahal. Tapi, sedikit mahal di awal namun lebih awet jangka waktu pemakaiannya tentu akan lebih mengirit biaya dibandingkan produk murah-meriah yang cepat rusak sehingga harus diganti berulangkali.  

Maka, inilah kisah teman kos saya dulu semasa kuliah S1 tentang SNI dan pengiritan biaya. Satu hari, alat stop contact listrik di kamarnya rusak. Penjaga kost menyarankannya untuk membeli satu merk yang bagus. “Ganti saja dengan merk stop contact yang lain, Mbak. Merk itu sudah sesuai SNI lho,” begitu penjelasan si Mas-mas penjaga kost setengah berpromosi. “Tapi, harganya memang sedikit lebih mahal daripada yang lain,” ungkapnya lagi. Berhubung teman saya waktu itu kondisi keuangannya sedang pas-pasan – nasib anak kost di tengah bulan – maka dia memilih merk yang serupa stop contact sebelumnya yang sudah rusak.

Mudah ditebak, tak sampai enam bulan kemudian, stop contact di kamarnya rusak lagi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, dia pun memilih merk stop contact yang sudah memiliki SNI tersebut. Hingga hitungan tahun, stop contact di kamarnya aman-aman saja dan belum pernah diganti lagi bahkan sampai teman saya itu lulus kuliah lalu pindah kos ke lokasi sekitar tempat kerjanya. Komentarnya sebelum pindah kos, “Wah, stop contact ber-SNI ini malah jatuhnya lebih murah ya karena awet sampai bertahun-tahun. Nanti waktu membangun rumah, pakai stop contact merk ini lagi sajalah.”

Konsumen Cerdas Membaca SNI Hingga Tuntas  

Berkaca dari pengalaman mengenai SNI itulah, saya menyimpulkan bahwa SNI ternyata tidak hanya membuat konsumen menjadi raja (dan ratu) yang berbahagia, namun juga produsen semakin berjaya. Produsen yang menjual barang dan jasa yang telah sesuai SNI tentu kualitasnya produknya lebih baik daripada produk yang belum memiliki SNI.

Tanggal 20 April merupakan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) di Indonesia yang diperingati setiap tahun sejak tahun 2013. Tema Harkonas tahun 2016 ini yang dicanangkan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) yaitu “Gerakan Konsumen Cerdas, Mandiri dan Cinta Produk Dalam Negeri” dengan sub tema “Konsumen Cerdas Dengan Nasionalisme Tinggi Menggunakan Produk Dalam Negeri. Puncak peringatan Harkonas akan dilaksanakan pada Selasa, 26 April 2016 di Lapangan Banteng yang diharapkan akan dibuka oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo, sekaligus mencanangkan Strategi Nasional Perlindungan Konsumen Indonesia.

Informasi lengkap mengenai tata kelola perlindungan konsumen di Indonesia dapat diakses secara luas pada situs resmi Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan RI: http://ditjenspk.kemendag.go.id/ (Dokumen Pribadi)

Kemendag RI yaitu Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (DJPKTN) yang bertindak sebagai perwakilan pemerintah untuk menjamin kepastian terpenuhinya perlindungan konsumen bahkan telah memiliki suatu lembaga resmi yang bertugas memediasi sengketa antara konsumen dan produsen, yaitu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). BPSK bertugas di setiap kabupaten atau kota. Pada periode tahun 2014-2015, ada lima BPSK yang tercatat secara signifikan kinerjanya dalam menyelesaikan pengaduan konsumen yaitu BPSK Jawa Tengah, BPSK DIY (Yogya), BPSK Sumatera Barat, BPSK Kota Padang, dan BPSK Kota Bogor.

Jika konsumen yang merasa dirugikan belum sempat mendatangi kantor BPSK, maka untuk menampung aduan konsumen menyambut Harkonas 2016, Kemendag RI telah meluncurkan nomor khusus berbasis aplikasi whatsapp (WA) yaitu 0853 1111 1010. Layanan dari Kemendag RI untuk konsumen tersebut dimulai bertepatan dengan Bulan Pengaduan Konsumen selama 3 bulan (Februari, Maret, April 2016) dalam rangka Harkonas 2016. Tertarik untuk mencobanya saat ini juga?    

Inilah tampilan situs resmi BSN saat konsumen hendak mencari daftar pencarian nomor SNI, seperti kata “helm” dalam gambar di atas : http://sisni.bsn.go.id/index.php/sni_main/sni/index_simple (Dokumen Pribadi)

Selain adanya BPSK, SNI atau Standar Nasional Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian pemerintah dalam melindungi hak-hak konsumen di Indonesia. Adanya kesatuan standar produk dan jasa di Indonesa menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian bertujuan untuk antara lain: (1) meningkatkan jaminan mutu barang dan jasa, (2) meningkatkan perlindungan kepada konsumen, dan (3) meningkatkan kelancaran perdagangan di dalam serta luar negeri.

Cara mengakses SNI pun sangat mudah. Konsumen tinggal membuka situs resmi BSN tentang SNI yaitu http://sisni.bsn.go.id/. Lalu tinggal ketik kata kunci (keyword) produk yang sedang dicari nomor SNI-nya, misalnya mainan. Atau bisa juga dengan mengetik nomor SNI yang sudah diketahui, contohnya 3551. Maka, dalam sekejap daftar produk yang ingin diketahui nomor dan rincian SNI yang dimilikinya akan tertera.

Saya sudah mencobanya langsung dengan mengetik kata kunci helm yang ternyata bernomor SNI 1811. Adapun SNI bernomor 3551 adalah SNI untuk mie instan/instant noodles (SNI 01-3551-2012/Nomor sebelum revisi yang masih berlaku yaitu SNI 01-3551-2000). Saya sangat menyarankan setiap konsumen cerdas di Indonesia mengecek terlebih dahulu nomor SNI setiap produk yang akan atau sudah dibeli. Cara mengeceknya juga sangat mudah dan praktis yaitu melalui laptop atau smartphone yang terhubung dengan koneksi internet. Tujuannya jika suatu saat konsumen merasa kecewa dengan suatu produk, maka dengan mengetahui nomor SNI produk tersebut akan jauh lebih efisien dan efektif dalam proses pelaporannya ke BPSK.

Saat kualitas produk dan jasa sudah terjamin, terutama dengan kepastian adanya logo SNI dari pemerintah, maka konsumen pun akan merasa nyaman serta aman saat menggunakannya. Ketika konsumen cerdas sudah senang, maka pembelian pun akan terus berulang. Pembelian berulang jelas menguntungkan produsen. Keberadaan SNI ternyata membuat konsumen maupun produsen keduanya dapat berpuas hati dengan dan terlindungi dalam bisnis yang dijalani. Perekonomian nasional pun akan tambah kokoh.

Wah ternyata berawal dari “Gerakan Nasional Penerapan SNI (GeNaP SNI)”, impian rakyat Indonesia akan kesejahteraan dan kemakmuran kelak dapat menjadi kenyataan. Salam konsumen cerdas. Ayo, bersama kita menjadi konsumen yang cerdas!

 

Referensi Artikel

Kemendag Ajak Jurnalis, Mahasiswa, dan Blogger Menulis “Koncer”

Tentang Harkonas

Profil Direktorat Pemberdayaan Konsumen

Tentang BSN

Parameter Pencarian Daftar SNI

Kemendag Perkuat Upaya Perlindungan Konsumen melalui Bimbingan Teknis SDM BPSK

Rakornas Mainan Anak Indonesia : Alat Permainan Edukatif harus memenuhi Standar

Standar Nasional Indonesia/SNI

Menanti Gebrakan BPOM Meredam Kasus Keracunan Makanan

Dirjen PKTN Kampanye Deregulasi Perlindungan Konsumen

 Tulisan di atas diikutsertakan dalam lomba “DJPKTN Lomba Karya Tulis Blog 2016″

Blogger dapat berpartisipasi dalam menyambut “Hari Konsumen Nasional 2016″ dengan menulis tentang kesadaran untuk menjadi “KonCer” atau “Konsumen Cerdas” (Sumber Ilustrasi 4)

Lomba karya tulis Harkonas 2016 dari DJPKTN Kemendag RI ini juga terbuka untuk jurnalis dan mahasiswa (Sumber Ilustrasi 5)

 

Ayo, bersama kita menjadi konsumen Indonesia yang cerdas (Sumber Ilustrasi 6)

 

 

Tulisan penulis lainnya yang terkait dengan perlindungan konsumen:

Teliti Sebelum Membeli http://nisasan12.blogdetik.com/2015/01/26/teliti-sebelum-membeli

Kunjungi juga situs resmi terkait informasi perlindungan konsumen, Hari Konsumen Nasional, dan SNI berikut ini:

Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga http://ditjenspk.kemendag.go.id/

Hari Konsumen Nasional (Harkonas) http://www.harkonas.id/

Badan Standardisasi Nasional SNI http://sisni.bsn.go.id/

 

 

 

 

 


TAGS SNI StandarNasionalIndonesia HariKonsumenNasional Harkonas DitjenSPKkemendagRI KemendagRI BPSKditjenSPKkemendagRI BSNRI BadanStandardisasiNasional GenapSNI


-

Author

Search

Recent Post