Lima Kiat Tepat Menulis Review oleh Konsumen

18 Apr 2016


Nilai 4.7 dari skala 5 untuk review bintang di atas menunjukkan semakin tingginya kualitas barang atau jasa yang direview karena skor “5″ adalah sempurna (Sumber Ilustrasi)

 

            Tanda bintang sekarang kian melambung pamornya. Buktinya, kita langsung memperhatikan tanda bintang yang tertera pada suatu hal. Bagi Anda yang biasa berbelanja online, sebelum membeli suatu barang, kualitas barang tersebut akan dinilai dari jumlah bintang terangnya. Dari satu hingga lima skalanya (nilai 0 sampai dengan 5), semakin banyak jumlah bintang bersinarnya, maka semakin baik pula kualitas barang tersebut.

            Review produk berupa barang maupun jasa memang bukan lagi hak para ahli. Sebaliknya, para produsen sangat mengharapkan adanya umpan-balik atau feedback dari para konsumen. Bentuknya beragam, dari sekedar menekan tombol tanda puas atau tidak puas, melingkari pilihan, hingga sampai menuliskannya secara singkat maupun padat. Ada pula review yang diulas dengan lengkap dan terperinci seperti para review dari blogger.

            Hal yang kemudian menjadi pertanyaan klasik para reviewer, baik konsumen, blogger, ataupun kombinasi keduanya : “Bagaimana review barang dan jasa yang ideal itu?” Apakah review yang terlalu memuja-muji atau malah habis-habisan mengkritisi? Terlebih jika sang reviewer nantinya dibayar. Mungkinkah obyektifitas si reviewer akan tetap terjaga atau sebaliknya?

            Sejatinya, review dari konsumen itu sifatnya pasti subyektif karena pengalaman satu orang dengan lainnya jelas berbeda. Apalagi jika sudah berhubungan dengan review kuliner. Bagi penggemar masakan pedas dan asam, menu Thailand layak direkomendasikan. Sebaliknya, untuk yang menggemari masakan yang tak terlalu berbumbu kuat dan menyengat, menu Eropa pasti lebih menarik untuk disarankan. Begitu pula dengan pemakaian smartphone dan laptop. Saat sudah cocok dengan satu merk tertentu, biasanya merk tersebut yang menempati review terbaik baginya.

Namun, bukan berarti review konsumen tidak bisa dibuat seobyektif mungkin. Sama halnya seperti adanya standardisasi barang dan jasa, review konsumen juga bisa ditulis dengan panduan tertentu. Berikut ini ada lima kiat penulisan review barang dan jasa yang dapat diaplikasikan oleh para konsumen maupun blogger dan juga keduanya.

  1. Sopan

Sekecewa apapun seorang konsumen dan blogger terhadap kualitas barang dan jasa yang direviewnya, sopan-santun penulisan review tetap harus diperhatikan. Bukannya apa-apa. Bisa jadi, jika bahasa review sudah kasar, maka pihak produsen malah akan lebih fokus ke cara mereview dan bukannya ke isi review yang hendak disampaikan. Kiat paling tepatnya adalah sampaikan sesuai fakta dan realita yang terjadi sebenarnya tanpa didramatisir misalnya : “Saya kecewa dengan ukuran baju yang telah diterima dari merek ini karena tidak sesuai (kekecilan/kebesaran) dengan ukuran yang telah saya pesan sebelumnya.”

Di lain pihak, jika puas, reviewer dapat memuji senormalnya tanpa berbunga-bunga seperti “Saya merasa nyaman dengan keramahan dan kesigapan pelayanan dari staf hotel ini.”

 

  1. Simple

Gunakan selalu bahasa review yang sederhana, jelas, dan dapat dimengerti semua orang. Lebih baik lagi jika bahasa review yang bersifat teknis dapat dikaitkan dengan analogi atau permisalan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya tentang istilah kerja prosesor pada smartphone. Reviewer dapat memisalkan kerja prosesor pada gadget itu serupa kerja otak manusia. Semakin berkualitas isi otak seseorang, maka bukti nyatanya dapat dilihat pada kualitas kinerjanya sehari-hari. Begitu pula dengan prosesor gawai.

 

  1. Spesifik

Usahakan untuk tidak membahas semua aspek dari barang dan jasa yang direview dengan sangat detil. Ingat, kapasitas reviewer adalah sebagai pengguna awam atau kebanyakan. Beda halnya jika review dilakukan oleh seorang konsultan atau pakar yang profesional. Reviewer dapat mengupas lebih dalam tentang aspek tertentu yang menjadi keunikan atau pembeda produk tersebut dari produk lainnya yang sejenis di pasaran. Misalnya, suatu klinik kecantikan layak dikunjungi karena semua produk perawatannya berasal dari dalam negeri.

  1. Solusi

Reviewer juga sangat disarankan memberikan sumbangan saran dan masukan untuk kemajuan produk yang direviewnya. Saya pernah mereview coklat batangan yang diproduksi oleh pengusaha mikro di Ciomas Bogor yang memakai kacang Bogor sebagai varian rasanya. Secara rasa, produknya tak kalah enak dari merk coklat batangan yang sudah punya nama. Akan tetapi, saya sampaikan pula pada reviewnya agar tingkat kemanisan coklatnya bisa lebih dikurangi sehingga rasa kacang Bogornya tidak tertutupi oleh rasa manis tersebut.

 

  1. Share

Setelah menulis review, terutama para blogger, silakan sebarkan review Anda tersebut melalui media social yang dimiliki. Jika review dilakukan pada situs resmi produsen, reviewer juga bisa menyampaikan dan menyebarluaskan secara lisan isi reviewnya maupun reviewer lainnya ke khalayak luas. Metode promosi via lisan ini dikenal sebagai “gethok tular” atau “words of mouth.” Jadi jika reviewer tahu ada produk bayi yang sesuai untuk bayi yang kulitnya mudah terserang alergi, informasi berharga tersebut akan sangat bermanfaat ketika dibagi kepada pasangan suami istri yang baru saja dikaruniai buah hati.

           

            Kesimpulannya, pihak produsen sebagai yang direview barang atau jasanya dan konsumen sebagai pihak yang mereview sama-sama akan diuntungkan dengan adanya review yang berkualitas baik secara isi dan tata cara penulisannya. Kualitas barang dan jasa akan semakin meningkat. Bagi reviewer, keterampilan dan keahlian mereview sangat membuka peluang untuk menanbah penghasilan tambahan, terutama era di mana pengalaman pengguna atau user-experience saat ini sedang menjadi idola sekaligus primadona di bidang pemasaran dan penjualan (marketing and sales). Bagaimana? Tertarik untuk terus mengasah kemampuan mereview Anda?

 

 


TAGS reviewkonsumen reviewproduk reviewjasa blogreview blogreviewer starreviews reviewbintang


-

Author

Search

Recent Post