Tahapan Anak Berpuasa Sesuai Umur Perkembangan

4 Jun 2016

Anak dapat dilatih untuk berpuasa sesuai usia tumbuh kembangnya (Sumber Ilustrasi 1)

 

                Sesuai syari’at Islam, puasa atau shaum Ramadhan diwajibkan kepada seorang muslim yang sudah cukup umur (baligh). Bagi muslimah, usia baligh ditandai dengan datangnya periode menstruasi (datang bulan). Untuk pria muslim, ketika telah mengalami mimpi basahnya yang pertama, maka dia sudah masuk kategori baligh.

                Jadi, bagi seorang anak yang belum baligh, hukum shaum Ramadhan baginya adalah tidak wajib. Lalu apakah ini berarti anak tidak boleh berpuasa? Hukumnya menjadi mubah (boleh) dalam rangka pembelajaran serta pelatihan. Jikalau seorang anak pernah mengalami shaum, maka saat usia baligh, dirinya sudah terbiasa dan tidak kaget lagi dengan ibadah shaum tersebut.

                Momen bulan suci Ramadhan tentunya sangat cocok bagi para orang tua muslim untuk mengenalkan kepada buah hatinya tentang konsep berpuasa. Hal yang harus diingat oleh semua orang tua adalah pengajaran shaum terhadap seorang anak harus disesuaikan dengan usia tumbuh kembangnya. Selain itu, prosesnya juga harus berjenjang dari puasa setengah hari sampai full hingga Maghrib. Berikut ini tahapan anak berpuasa sesuai usianya.

Usia Bayi hingga Balita

                Jelas untuk kategori usia ini, seorang anak tidak dianjurkan untuk berpuasa. Namun, orang tua boleh mengikutsertakan mereka saat makan sahur dan berbuka. Untuk anak usia 3 hingga 5 tahun atau usia kelompok bermain (playgroup) hingga TK, orang tua bisa mengajarkan mereka untuk menghormati orang yang sedang berpuasa dengan tidak makan atau minum di tempat umum. Jikalau anak usia TK ini ingin juga berpuasa, orang tua tidak perlu melarangnya. Namun, jika baru sebentar mereka sudah lapar dan haus kembali sehingga ingin segera berbuka, orang tua juga harus mengizinkannya karena mereka baru dalam tahap mengenal puasa.

Usia Kelas 1 hingga Kelas 3 SD

                Umumnya anak berusia 6 hingga 8 tahun di periode usia ini. Seiring dengan perbaikan gizi, usia ini merupakan transisi atau peralihan sebelum anak menjadi baligh di usia murid SD yang lebih besar (kelas 4 hingga 6 SD) hingga awal SMP. Pada usia SD yang lebih kecil ini, anak bisa diajarkan untuk berpuasa setengah hari atau hingga waktu Zuhur. Anak ikut makan sahur namun dapat berbuka sepulang sekolah. Tetap bekali anak dengan makanan dan minuman ke sekolah karena tak tertutup kemungkinan, anak merasa lapar dan haus lagi saat jam istirahat sekolah tiba. Orang tua juga bisa mengingatkan anak, jikalau mereka tak kuat berpuasa selama di sekolah, tak mengapa untuk berbuka tanpa harus takut dimarahi oleh orang tua karena telah membatalkan puasanya saat di sekolah. Konsep kejujuran dan keterbukaan tentang shaum bisa ditanamkan ke anak mulai kategori usia ini.

Saat berpuasa, anak dapat dilatih untuk lebih memperbanyak bacaan dan hafalan Al-Qur’an (Sumber Ilustrasi 2)

Usia Kelas 4 hingga Kelas 6 SD

                Anak kini berusia antara 9 hingga 11 tahun. Secara fisik, mereka sudah lebih kuat dan secara psikis, mereka sudah dapat diajak berdiskusi. Anak harus sudah diajarkan tentang konsep dan tanda-tanda usia baligh yang berarti sudah wajib berpuasa saat Ramadhan. Sekalipun belum baligh, anak bisa dilatih untuk berpuasa selama satu hari di usia ini. Pastikan pula, anak telah makan sahur dengan menu yang lengkap, bergizi, dan seimbang. Bukan hanya secara menahan lapar dan haus saat puasa, konsep untuk senantiasa berlaku baik dan berbicara sopan selama berpuasa harus terus diingatkan serta selalu dicontohkan kepada anak. Ajak pula anak untuk lebih sering membaca dan menghafal Al-Qur’an selama shaum daripada hanya tidur-tiduran sambil menunggu waktu berbuka.

                Ada orang tua yang memberikan hadiah jikalau anaknya dapat full berpuasa Ramadhan. Apakah ini tindakan yang tepat? Bagaimanapun juga, motivasi eksternal itu tidak akan seefektif motivasi internal. Sejak awal, orang tua harus rutin menanamkan konsep puasa sebagai bentuk ibadah kepada Allah swt dan bukannya cara mencari hadiah. Akan lebih baik jikalau anak diajak untuk berbuka shaum bersama anak yatim atau fakir miskin sebagai bentuk rasa syukur dan mengasah kepedulian sosial anak sejak dini. Seorang anak yang sedari kecil sudah peka dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, saat dewasanya akan tumbuh menjadi seseorang yang berakhlak mulia (akhlakul karimah) serta bertakwa sesuai tujuan puasa yang telah tertulis dalam Al-Qur’an, Insha Allah.

Ajak anak melatih kepedulian sosial dengan berbuka puasa bersama anak yatim dan fakir miskin (Sumber Ilustrasi 3)

 


TAGS positiveparenting pengasuhananak mendidikanakberpuasa puasauntukanak tumbuhkembanganak mengajarianakberpuasa


-

Author

Search

Recent Post