Semudah Aksesnya, Seramah Pelayanannya, Seberkah Tabungan Syariahnya

10 Jul 2016

 

 


            Islamic Banking/Perbankan Syariah, lengkap, modern, dan menentramkan nasabahnya (Sumber Ilustrasi 1)

Praktis dan terjangkau. Itulah alasan utama saya membuka rekening tabungan syariah pada tahun 2003 lampau. Wah, Subhanallah, sudah 13 tahun ya tanpa terasa. How time flies away!

Saat itu, saya diamanahi jabatan sebagai Bendahara pada salah satu organisasi mahasiswa di kampus pada Kota Hujan Bogor, yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk keamanan dan kepraktisan laporan keuangan, ketua organisasi menyetujui saran saya untuk menyimpan uang organisasi di bank.

Nah, padahal saya belum memiliki referensi tentang bank yang akan dipilih. Sebagai bendahara, pertimbangan saya menjatuhkan pilihan bank adalah yang terdekat dari kampus dan ringan biaya administrasinya. Urusan jenis bank, konvensional maupun syariah belum masuk pertimbangan saya waktu itu.

Pucuk dicinta ulam tiba. Sepulang dari kuliah dan berjalan di koridor kampus, tepatnya di Fakultas Pertanian (Faperta) IPB Dramaga, saya mendapati stand Bank Syariah Mandiri (BSM). Saya ingat betul, strategi menjemput bola untuk mengenalkan sekaligus menambah jumlah nasabah BSM ketika itu cukup efektif dan efisien. Para penjaga stand yang ramah dan kooperatif sangat membantu para mahasiswa dan staf (dosen dan karyawan) IPB yang berlalu-lalang di koridor itu yang bertanya tentang cara membuka rekening di BSM, termasuk saya.

Ternyata, cukup dengan menyetor minimal Rp. 50.000 (Lima puluh ribu rupiah) di tahun 2003 tersebut, seseorang sudah dapat membuka rekening BSM di Kantor Cabang Pembantu (KCP) IPB Dramaga. Terjangkau sekali, khususnya bagi kantong mahasiswa. Syaratnya pun sangat mudah yaitu dengan membawa fotokopi KTP saja. Calon nasabah BSM pun bisa memilih antara memiliki fasilitas kartu ATM atau tidak. Saya memilih untuk tidak memiliki fasilitas ATM karena uang itu adalah masih uang milik organisasi, bukan milik saya pribadi.

Selain terjangkau secara nominal keuangan (saldo minimal rekening BSM ketika itu adalah Rp. 20.000 atau Dua Puluh Ribu Rupiah), letak gedung KCP BSM IPB Dramaga yang berada di depan IPB, tepatnya berseberangan dengan gedung wisuda IPB, Graha Widya Wisuda (GWW) semakin memantapkan niat saya untuk menaruh uang organisasi di sana. Jarak ke KCP IPB Dramaga yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10-15 menit dari kampus jelas memudahkan saya untuk menyetorkan maupun menarik uang organisasi.

Syukur Alhamdulillah, BSM menjadi pilihan yang teramat tepat. Selama setahun, uang organisasi aman dan termonitor pelaporannya dengan mencetak bukti uang masuk serta uang keluar pada buku tabungan untuk laporan keuangan rutin per bulan ke dekanat fakultas. Dekan fakultas urusan kemahasiswaan pun pernah memuji laporan keuangan tersebut karena jelas, dan terperinci aliran dananya (systematic cash flow). Bahkan beliau menganjurkan para bendahara organisasi mahasiswa lainnya agar juga ikut menaruh uang organisasi yang mereka kelola di BSM.

Jujur, selama 5 (lima) tahun awal saya menabung di BSM, saya belum terlalu paham mengenai hukum haramnya bunga bank (riba). Kepraktisan dan kenyamanan menabung di BSM lebih menjadi prioritas saya untuk tetap menabung di BSM setelah tak lagi mengelola keuangan organisasi mahasiswa. Maka, setelah urusan semua dana organisasi rapi di akhir kepengurusan 12 tahun lalu, ketua organisasi mengizinkan saya untuk melanjutkan penggunaan rekening BSM tersebut atas nama saya pribadi setelah kepengurusan yang baru membuka rekening di bank lainnya.

Tabungan syariah kini telah banyak tersedia jenis dan bank yang menyediakannya di Indonesia (Sumber Ilustrasi 2)

Sebelum kuliah di Bogor, semasa sekolah saya pernah membuka rekening tabungan di sebuah bank konvensional milik pemerintah. Namun, (sangat) panjangnya antrian saat di bank, AC ruangan yang tak terlalu berfungsi setiap kali saya ke sana, dan pelayanan yang kurang simpatik membuat saya akhirnya memutuskan untuk menutup tabungan saya di bank tersebut. Belum lagi sesampainya saya di Dramaga Bogor, saya mendapati bahwa kantor bank tersebut jauh dari kampus dan lokasi terdekatnya harus ditempuh dengan kendaraan.

Fakta tersebut kontras dengan BSM yang bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki dari kampus, ruangan yang nyaman dan sejuk karena AC berfungsi baik, serta pelayanannya yang (selalu) ramah dan bersahabat. Mulai sejak di pintu masuk BSM, para satpam dengan senyum tulus menyapa para nasabah seraya mengucap salam dan menanyakan maksud kedatangan. Keramahan yang serupa tidak hanya saya temui di KCP BSM IPB Dramaga, namun juga di kantor BSM lainnya yang pernah saya datangi di Bogor yaitu KCP BSM Merdeka dan KC (Kantor Cabang) BSM Pajajaran. Bahkan saya tidak pernah merasa bosan sekalipun harus mengantri karena BSM menyediakan koleksi majalah dan koran edisi terbaru yang bisa dibaca, terutama mengenai info teranyar tentang ekonomi Islam dan keuangan syariah secara lokal dan global. Tayangan TV juga bisa dinikmati nasabah saat mengantri di BSM.

Selain di Bogor, belakangan ini, adakalanya saya juga mengunjungi KC BSM di Thamrin Jakarta Pusat setelah mengunjungi perpustakaan BI (Bank Indonesia) yang berseberangan dengan kantor OJK (Otoritas Jasa Keuangan) di Thamrin Jakarta. Biasanya saya ke BSM Thamrin untuk mengambil uang di ATM lalu melaksanakan sholat di lantai dasar yang terbuka untuk umum. Satu sore menjelang Maghrib, karena tidak tahu dan sedang terburu-buru, saya menuju ke ATM BSM Thamrin melalui rute yang seharusnya hanya boleh dilewati khusus untuk karyawan. Saya mulai ngeh ada yang enggak beres nih, setelah menyadari 2 orang satpam (security officer) di sana yang bercakap-cakap sambil sesekali melihat ke arah saya.

Meskipun demikian, mereka tidak menghampiri saya yang sedang menarik uang dari ATM. Saat menuju pintu keluar dari ATM yang berlokasi di dalam gedung perkantoran, barulah salah seorang dari mereka dengan tetap ramah tersenyum menunjukkan jalan yang bisa dilewati oleh masyarakat umum jika lain kali saya hendak menuju ATM lagi. Saya pun otomatis meminta maaf sekaligus berterima kasih sudah diingatkan dengan cara yang santun dan bersahabat oleh petugas keamanan di BSM Thamrin Jakarta Pusat tersebut.

Keramahan plus kepraktisan pelayanan di BSM juga saya dan Ayah saya alami di KCP BSM Ciledug Kota Tangerang. Satu pagi, kami sama-sama ingin mencetak bukti transaksi di buku tabungan kami masing-masing. Kami pun lalu mengantri dengan nomor antri yang berurutan. Saat tiba di petugas teller, Mbak yang ramah tersebut kaget ketika tahu bahwa kami harus ikut mengantri padahal tidak menyetor atau menarik dana tabungan. Ternyata, untuk mencetak transaksi di buku tabungan, kami tidak perlu mengantri seperti halnya proses penyetoran atau penarikan dana tabungan. Cukup serahkan buku tabungan ke satpam, merekalah yang kemudian akan mengantarkan ke petugas teller untuk langsung dicetak dan segera dikembalikan ke nasabah setelah bukti transaksi tercetak. Wah, sangat efektif dan efisien sekali ya, Masya Allah!

Setelah hampir 10 tahun tak memiliki rekening di bank konvensional karena sudah benar-benar nyaman dan aman dengan pelayanan di BSM selama lima tahun sebelumnya (2003 hingga 2008), tahun 2008 saya memiliki (lagi) tabungan di bank konvensional saat pindah kerja. Kantor saya yang baru waktu itu mentransfer gaji pegawainya melalui salah satu bank swasta nasional. Nah, mulai saat itulah saya menyadari betul, betapa banyaknya manfaat dan berkah dengan memiliki tabungan di bank syariah.

Kenapa saya bisa berpendapat seperti itu? Saya yang terbiasa dengan biaya administrasi yang tergolong ringan di BSM, langsung shocked setelah mengetahui (lumayan) besarnya potongan di ATM bank swasta konvensional tersebut. Jumlah nominal minimal saldo tersisa di rekening bank swasta konvensional tersebut pun jauh lebih besar daripada di BSM agar bisa menarik uang, baik di ATM maupun tarik tunai di kantor cabang. Ditambah lagi dengan tidak banyaknya ATM dari bank tersebut yang tersedia di tempat umum, duh repotnya. Beda halnya dengan tabungan BSM yang dananya bisa ditarik dari ATM Bank Mandiri tanpa terkena potongan biaya administrasi. Jadilah saya menyiasatinya dengan langsung mentransfer semua gaji yang ada di ATM bank swasta konvensional tersebut ke rekening BSM.

Ketidaknyamanan saya semakin terasa saat membuka tabungan berencana di bank tersebut sekitar 3 tahun kemudian atau tahun 2011. Termotivasi dengan transfer gaji yang bisa langsung otomatis dananya disalurkan ke tabungan berencana berkala, saya pun memutuskan untuk memiliki tabungan berencana seperti halnya yang sudah saya lakukan selama ini pada tabungan saya di BSM. Saya mengambil jangka waktu 1 tahun saat itu.

Mari bersama kita dukung dan sukseskan program “Aku Cinta Keuangan Syariah” dari Otoritas Jasa Keuangan/OJK (Sumber Ilustrasi 3)

Manusia berencana, Allah swt yang berkuasa. Sebelum 1 tahun, tepatnya setelah 10 bulan, saya mendadak memerlukan uang tunai yang lumayan besar dalam waktu singkat untuk kepentingan pendidikan. Mau tak mau, tabungan berencana saya di BSM dan bank swasta konvensional tersebut harus ditarik dananya meskipun belum jatuh tempo penarikannya.

Berhubung kantor saya waktu itu lebih dekat ke bank swasta konvensional tersebut, maka pergilah saya ke sana terlebih dahulu untuk mengurus pencairan tabungan berencana. Saya sudah tahu sebelumnya bahwa saya akan dikenai denda (penalti) jika mencairkan dana tabungan berencana sebelum jatuh temponya. Namun, saya dibuat kaget bukan main ketika mengetahui dana saya baru bisa diterima 7 hari atau seminggu kemudian, ya ampun! Saya kontan bertanya ke petugas bank tentang lamanya pencairan dana, jawabnya singkat tanpa senyum sedikitpun (memang sejak awal ketika tahu saya akan mencairkan dana tabungan berencana sebelum waktunya, wajah si customer service langsung berubah ketus), “Memang begitu mekanismenya.” Oke, cukup tahu dan sekali saja mengalaminya, pikir saya.

Selanjutnya, ketika menuju BSM, saya sudah siap-siap jika harus menunggu selama seminggu ke depan sampai dana tabungan berencana bisa cair. Saya bahkan sudah berencana untuk meminjam dahulu uang ke saudara dan teman untuk diganti minggu depannya ketika sejumlah dana tabungan berencana sudah turun.

Di luar dugaan, tabungan berencana saya di BSM dananya bisa ditransfer hari itu juga ke ATM saya, Alhamdulillah. Saat saya tanya, “Oh, tidak perlu menunggu sampai seminggu ya Mbak?” Sang Mbak terlihat agak bingung dengan pertanyaan saya tersebut. Responnya dengan santun, “Kecuali ada permintaan khusus dari nasabah, bisa saja. Kalau tidak, hari ini diurus pencairannya, hari ini juga dananya bisa turun, Bu.” Saya langsung lega mendengarnya.  

Mbak yang bertugas di bagian Customer Service pun sangat ramah selama proses pencairan dana tabungan berencana saya di BSM. Sebelum beranjak pergi, dengan penuh senyum simpatik, sang Mbak mengingatkan saya, “Nanti kalau sudah ada rezeki berlebih lagi, silakan kembali membuka tabungan berencana di BSM ya Bu.” Jawab saya mantap, “Insyaa Allah, Mbak.” Jawaban yang saya segera tindaklanjuti dan terus berlanjut hingga saat ini.

Tahun 2014, setelah tak lagi bekerja di kantor yang saya masuki di tahun 2008 itu, saya pun tak lagi menggunakan rekening bank swasta konvensional tersebut. Terlebih lagi, di kampus ekonomi Islam tempat saya mengajar saat ini, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia Bogor, gaji staf dibayarkan melalui dua bank syariah yang bisa dipilih yaitu Bank Muamalat dan Syariah Mandiri. Saya juga merasakan langsung, setelah tak lagi memiliki rekening bank konvensional, rezeki berupa uang semakin lancar dan datang dari arah yang tak diduga-duga, baik dari bidang pendidikan (akademik di kampus) maupun tulisan (blogging).

Ditambah lagi, setelah memiliki fasilitas internet banking BSM, urusan pembayaran tagihan bulanan semakin mudah dan praktis dilakukan karena dalam genggaman tangan melalui smartphone. Beramal pun seperti Zakat, Infak, dan Shadaqah (ZIS) juga sesingkat menjentikkan jari dan mengedipkan mata karena bisa di mana saja dan kapan saja melalui internet banking BSM.

Ah, inilah pasti berkahnya dengan (hanya) memiliki tabungan syariah. Ke depannya, saya sudah berencana untuk berinvestasi pada reksadana dan saham pada pasar modal syariah. Insyaa Allah, dengan keuangan syariah yang mengharamkan riba dan menghalalkan jual-beli, rezeki seorang muslim (pasti) akan semakin bertambah jumlah dan melimpah berkahnya. Maka ingatlah, bukankah janji Allah swt itu selalu mutlak dan tak pernah berubah? #JanjiAllahItuPasti

Dengan keuangan syariah, yakinlah Allah swt pasti menambah rezeki hambaNya baik jumlah maupun berkahnya (Sumber Ilustrasi 4)

  

           


TAGS KeuanganSyariah BankSyariah TabunganSyariah OtoritasJasaKeuangan LombaBlogOJK LombaBlogPuasa OJKSyariah AkuCintaKeuanganSyariah


-

Author

Search

Recent Post