Full Day School dan Solusi Tutup Botol

12 Aug 2016

Empat Menteri Pendidikan, akankah selalu identik dengan pergantian kebijakan dan peraturan yang (seringkali) membingungkan? (Sumber Ilustrasi 1 : http://www.jawapos.com/read/2016/08/09/43845/sekolah-full-day-bukan-pilihan-terbaik)

 

Dunia pendidikan di Indonesia kembali dikejutkan dengan (calon) kebijakan baru.  Harap maklum, ganti menteri, ganti instruksi.  Bapak Muhadjir Effendy – Mendikbud hasil Reshuffle II Kabinet Kerja Presiden Jokowi – meluncurkan wacana “Full Day School” untuk murid SD dan SMP.

Namanya juga orang Indonesia.  Baru sebatas wacana, namun berjuta pendapat langsung mengemuka.  Ada yang pro maupun kontra via dunia maya juga dunia nyata.  Mulai masyarakat biasa sampai pesohor publik ikut sumbang suara mengenai “Full Day School.”

Namun, apapun kebijakannya, manfaatnya jelas harus ada.  Sekolah bukanlah laboratorium dengan murid dan gurunya sebagai kelinci percobaan.  Belum selesai dengan urusan kurikulum, kini mereka sudah akan dijejali lagi dengan peraturan baru.  Tanpa dampak positif, kebijakan pendidikan apapun akan sulit menjadi efektif.

Para orang tua dan masyarakat di Indonesia pasti menaruh harapan besar terhadap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, siapapun menteri dan presidennya.  Ibarat botol, pastikan bahwa tutupnya memang sesuai dan berfungsi baik.  Tutup botol pun tidak harus seragam warnanya dengan botolnya. 

Bagi penikmat minuman ataupun air mineral dalam kemasan botol yang senang me-refill (mengisi ulang) isi botolnya, pasti bisa memahami perumpaan atau analogi ini.  Selama tutup botol memang pas dan tepat dengan mulut botolnya, dari merk dagang apapun, mereka dapat saling dipertukarkan.  Asalkan air atau isi botol tidak sampai tumpah dan botol dapat tertutup dengan rapat, warna dan jenis tutup botol tidak lagi menjadi faktor penting.

 

Bagi siswa, proses belajar juga sangat disarankan (sesekali) di alam terbuka agar peka terhadap lingkungan sekitarnya (Sumber Ilustrasi 2 : http://gres.news/news/politics/109297-full-day-school-system-remains-controversial/0/)

 

Begitu pula dengan (wacana) kebijakan “Full Day School.”  Bapak Mendikbud Muhadjir bisa dipastikan ingin agar semua murid sekolah di Indonesia dapat mengoptimalkan waktu belajarnya selama jam sekolah daripada berkeliaran di luar sekolah tanpa kegiatan yang produktif.  Para orang tua dan guru pun jelas mempunyai harapan yang sama.  Ini mirip dengan fungsi penutup botol yang bertujuan agar isi dalam botol tidak sampai sia-sia luber keluar.

Nah, cara pelaksanaan “Full Day School” itulah – jika sampai menjadi peraturan nantinya - yang bisa dianalogikan dengan warna dan jenis tutup botol.  Pastinya, tidak semua sekolah di Indonesia sudah siap menjadi tempat belajar muridnya sepanjang hari.  Jangankan belajar di sekolah dari pagi sampai sore, masih banyak sekolah di daerah yang tidak memiliki cukup guru sehingga satu guru harus merangkap dengan mengajar beberapa kelas sekaligus dalam satu waktu.  Tak jarang pula, sudah kurang gurunya, bangunan sekolahnya pun tak layak bahkan hingga tak ada. 

Di kota sebaliknya yang terjadi, murid sekolah sudah tak ubahnya orang kerja.  Sepulang sekolah di siang hari, mereka langsung menuju tempat les ini-itu yang berada di luar sekolah.  Itu saja belum cukup.  Sesampainya di rumah pada sore hari, guru les privat sudah siap menanti mereka untuk pelajaran tambahan.  Otomatis mereka hanya benar-benar beristirahat di malam hari sedangkan esok paginya harus bersekolah kembali.

Maka, menghangatnya topik “Full Day School” belakangan ini harusnya menjadi momentum tepat untuk mengevaluasi situasi dan kondisi pendidikan nasional di Indonesia.  Alih-alih sekedar meributkan warna dan jenis tutup botolnya, tentunya akan jauh lebih positif dan produktif ketika fungsi dari tutup botol itulah yang diprioritaskan efisiensi dan efektifitasnya. 

Bagi sekolah yang memang dari awal sudah memposisikan diri mereka sebagai “Full Day School”, para orang tua dapat melihatnya dari kesiapan guru serta fasilitas yang sudah dibangun sebelumnya.  Contoh nyatanya yaitu pendidikan di pesantren maupun sekolah berasrama lainnya (boarding school).  Untuk sekolah yang masih perlu banyak pembenahan, dari segi infrastruktur gedung dan kualitas serta kuantitas guru sekolahnya, wacana “Full Day School” sebaiknya dapat ditunda dulu atau diakomodasi dengan materi ekstrakurikuler yang sesuai dengan muatan lokal dan lingkungan sekitarnya (local wisdom).  Salam pendidikan.  Jayalah Indonesia dan sejahteralah rakyatnya.       

Full Day School harus disesuaikan dengan kesiapan fisik dan mental para pelakunya, terutama para guru dan siswanya (Sumber Ilustrasi 3 : http://news.detik.com/berita/3271201/ide-full-day-school-dinilai-perlu-pertimbangan-dan-kajian-matang)            


TAGS opini FullDaySchool MendikbudMuhadjirEffendy ProKontraFullDaySchool PendidikanNasionalIndonesia SolusiTutupBotol WaktuBelajarSDdanSMP JamSekolahOptimal


-

Author

Search

Recent Post