Inovasi Mochi Sukabumi dan Kemenangan Donald Trump

28 Dec 2016


Mochi dari Sukabumi dengan kemasan bambu ini telah teruji waktu hingga hari ini (Dokpri)

            Wah, apa hubungannya? Bisa jadi sekilas seperti tak ada kaitannya.  Padahal? Yuk, kita cari benang merah di antara keduanya.  Just wondering…. Kenapa benang merah yang dipakai? Kenapa bukan benang pink? Bukannya hubungan a.k.a (personal) relationship itu jadi lebih romantis – katanya sih – dengan nuansa merah muda?  Okay, back to the main topic! Hehehehe….

            Dua bulan lalu, Oktober 2016, seorang mahasiswa memberi saya oleh-oleh kue mochi dari Sukabumi.  Lumayan banyak lho, 10 kotak! Variasi rasanya pun ada 2 macam : 5 kotak rasa pandan dan 5 kotak rasa strawberry.  Jazakallah khoiron katsiron to Alwi Abi Azhar, student from the I class of English  TLC Division in Matriculation Campus of Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia Dramaga Bogor.  (Sedikit) promosi kampus tempat saya mengajar sejak tahun 2012 lalu nih jadinya (^_^)

            Bukan pertama kalinya saya diberi oleh-oleh mochi dari mahasiswa.  Tahun 2013, seorang murid di tempat kursus bahasa asing saya mengajar selama 6 tahun (2008 – 2014), juga pernah menghadiahi saya sekotak mochi Sukabumi.  Bedanya, oleh-oleh khas Sukabumi yang dibuat dari campuran bahan ketan, kacang, gula, tepung tapioka, dan aroma (essence) pemberian murid bernama Dea itu dikemas lebih modern.

            Jadi mochi dari Alwi masih dikemas dalam kotak tradisional dari bambu sedangkan mochi dari Dea sudah dalam kemasan karton modern.  Waktu itu, Dea pernah berujar, mochi yang diberikannya itu memang menyasar supermarket dan toko oleh-oleh di pusat perbelanjaan yang biasanya didatangi oleh kalangan menengah serta kaum elit.  Seingat saya, kemasan mochi dari Dea itu memang lebih eksklusif dan berkelas.

Mochi Sukabumi merupakan makanan tradisional dari ketan yang berisi kacang (Dokpri)

            Sayangnya, saya lupa nama mereknya.  Saya hanya masih ingat warna karton kemasannya yang didominasi warna pink. So girly! Mungkin kalau satu waktu saya melihat lagi, saya masih bisa mengenalinya.  Tapi….seingat saya kok ya, selama ini tidak pernah lihat kemasan modern kue mochi itu lagi?

            Entah saya yang (dasarnya) memang bukan tukang jalan apalagi belanja, tapi memang setahu saya, merek kue mochi tradisional “Lampion” yang dibeli Alwi itu yang masih eksis hingga saat ini.  Zaman boleh sudah maju dengan menjamurnya fasilitas IT (hampir), terutama media sosial di manapun.  Tapi, produk dengan citarasa tradisional ternyata masih sangat diminati sekaligus laris dicari.  Baru saja saya cek, website mochi “Lampion” juga belum bisa diakses alias sedang dalam maintenance mode. Promosi mulut ke mulut (words of mouth) faktanya tetap efektif.

Kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS ternyata tak selamanya bergantung pada inovasi teknologi (Sumber Ilustrasi 3)

Nah, inilah yang menghubungkan kue mochi tradisional dengan kemenangan Donald Trump di AS pada 8 November 2016 lalu.  Trump didukung kaum pekerja teknis (blue collar/working class) yang semakin terpinggirkan karena perkembangan teknologi digital.  Ditambah lagi, Trump berjanji dalam kampanyenya untuk mewajibkan perusahaan di Negera Paman Sam tersebut untuk membangun kembali pabrik dalam negeri setelah selama ini produksi lebih banyak dilakukan di luar negeri (outsourcing), khususnya di negara yang upah pekerjanya murah, seperti Cina dan Taiwan.

Maka, Hillary Clinton yang lebih fokus ke pekerja profesional kantoran (white collar) – tentunya mereka lebih diuntungkan dengan kemajuan internet – harus menerima kenyataan pahit bahwa inovasi tidak selamanya selalu menguntungkan.  Jika sudah menyangkut urusan ekonomi (atau perut?), keuntungan paling besarlah yang seringnya menjadi pemenangnya, dan bukan masalah inovatif vs konservatif. That’s the bitter truth, indeed. Anda setuju?       

           

           

 

 


TAGS Inovasi MochiSukabumi DonaldTrump Innovation MakananTradisional


-

Author

Search

Recent Post