Di Candi Ini, Orang Terkaya Sedunia pun Terpesona

20 Apr 2017

 

Candi Borobudur adalah salah satu legenda wisata di Kabupaten Magelang - Jawa Tengah (Sumber Ilustrasi 1)

Bagi orang kaya, liburan bisa ke mana saja. Ini karena dana tamasya (lebih tepatnya uang) mereka jauh di atas rata-rata.  Tak heran, piknik orang berduit biasanya identik dengan tempat yang mewah dan fasilitas melimpah.  Tapi, apakah semua liburan orang kaya memang seperti itu?

Indonesia sejak lama dikenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa bahkan hingga ke mancanegara.  Mulai Sabang hingga Merauke, banyak daerah wisata yang sering menjadi incaran para turis lokal dan juga asing, dari wisata alam, budaya, sampai wisata kuliner. 

Salah satu propinsi di Indonesia yaitu Jawa Tengah memiliki alam yang cantik dan subur sekaligus melegenda sejarahnya.  Siapa yang tak tahu betapa subur tanah pertanian di sepanjang lereng pegunungan Merapi dan Merbabu akibat debu dan lahar vulkanik yang dikeluarkannya?   

Puncak Gunung Merapi menjadi latar belakang pemandangan yang unik dan menarik dari Candi Borobudur (Sumber Ilustrasi 2)

Bagi penggemar wisata sejarah dan religi, Jawa Tengah adalah surga.  Sebut saja lengkapnya peninggalan bangunan bersejarah dari zaman keemasan kerajaan saat Indonesia masih bernama Nusantara.  Bentuknya beragam dari tempat tinggal anggota keluarga bangsawan seperti keraton dan istana maupun tempat ibadah, contohnya antara lain masjid dan candi.

Bahkan sebuah candi legendaris di Jawa Tengah menjadi lokasi salah satu “Situs Warisan Dunia (World Heritage Site)”.  Ya, Candi Borobudur di Kabupaten Magelang termasuk bangunan bersejarah dunia berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh badan resmi PBB atau Perserikatan Bangsa-bangsa di bidang pendidikan, pengetahuan, dan budaya, yaitu UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) sejak tahun 1991.

Saat menyebut nama Candi Borobudur, orang pasti langsung membayangkan begitu luas dan besarnya candi peninggalan kerajaan Buddha dari wangsa Sailendra tersebut.  Apalagi saat teringat puncak Candi Borobudur yang menjadi lokasi stupa terbesar di sana.  Sungguh unik!

Bentuk Candi Borobudur melambangkan perjalanan kehidupan manusia di bumi hingga mencapai nirwana (Sumber Ilustrasi 3)

Candi Borobudur dibangun hampir selama 1 abad atau selama 75 – 100 tahun pada sekitar tahun 800 Masehi.  Memang tidak ada keterangan pasti waktu dimulainya pembangunan candi yang diperuntukkan bagi pemeluk agama Buddha aliran Mahayana tersebut. 

Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh para sejarawan dan arkeolog, Candi Borobudur dibangun pada periode puncak kejayaan kerajaan dinasti Sailendra (760 – 830 M) yang dikenal sebagai penganut taat Buddha Mahayana.  Ada pula kemungkinan, kebesaran Sailendra turut dipengaruhi oleh kedigdayaan kerajaan Buddha terbesar di Indonesia saat itu yaitu Sriwijaya.      

Di dunia pariwisata, sekarang Candi Borobudur menjadi obyek wisata tunggal yang paling banyak didatangi para turis.  Bukan hanya itu saja.  Secara wisata religi di Propinsi Jawa Tengah, Candi Borobudur juga adalah lokasi yang paling ramai dikunjungi para wisatawan.  Nomor duanya yaitu Masjid Agung Demak yang didirikan oleh Raden Fatah, raja pertama dari Kesultanan Demak di abad ke-15 Masehi.  Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa beragamnya agama di Jawa Tengah sejak zaman dahulu kala tak pernah berpotensi menjadi konflik melainkan malah merupakan bukti nyata toleransi yang lestari dan abadi serta lokasi wisata yang menyejukkan hati. 

Bisa jadi, inilah foto terlama Candi Borobudur - tahun 1872 - di era modern yang berhasil diabadikan (Sumber Ilustrasi 4)

Namun, siapa sangka, Candi Borobudur yang kini telah tersohor pamornya hingga tingkat dunia sebagai ikon wisata di Indonesia, dulu sempat ditelantarkan dan terkubur di hutan belantara selama ratusan tahun.  Atas prakarsa seorang Gubernur Jenderal di Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles, maka di tahun 1814, Candi Borobudur mulai dikenal kembali oleh dunia hingga kini.

Candi Borobudur memang mempunyai pesona magis tersendiri.  Jikalau tidak, manalah mungkin seorang penguasa dan bangsawan terhormat asal Inggris sekelas Sir Raffles tertarik untuk melakukan penggalian ulang Candi Borobudur yang sebelumnya ditutupi semak belukar selama berabad-abad. Dua abad kemudian atau 200 tahun setelahnya, tepatnya di 2014, seorang pria asing - yang tak kalah berpengaruhnya dari Sir Raffles - mengunjungi candi Buddha terbesar di dunia tersebut saat kunjungan kerjanyanya ke Indonesia.  Bisa menebak, siapakah dia?

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi masyhurnya reputasi Candi Borobudur hingga ke seantero dunia.  Inilah 3 faktor pesona utama pada candi yang telah memikat begitu banyak wisatawan mancanegara untuk mengunjunginya langsung, terutama untuk menikmati indahnya sinar matahari terbit (sunrise) di pagi hari.  Yuk kita cermati ketiga faktor tersebut.

Para pelajar sedang melakukan kunjungan wisata sekaligus menjaga kebersihan di Candi Borobudur (Sumber Ilustrasi 5)

Pertama, ketika ditinjau dari segi teknis, desain arsitektur candi dan stupa Borobudur yang termasuk mahakarya bangunan historis dari zaman Nusantara kuno.  Candi sebesar dan semegah itu sama sekali tidak menggunakan semen untuk merekatkan 55.000 meter kubik batu andesit yang menjadi bahan penyusunnya.  Sistem kunci (interlock) seperti yang terdapat pada penyusunan balok mainan lego di masa kini telah diterapkan pada perekatan blok batu Candi Borobudur yang berwujud punden berundak (piramida bertingkat) khas Indonesia.  Luar biasa!

Jadi bagi penikmat seni arsitektur, Candi Borobudur merupakan pilihan tujuan wisata yang sangat tepat.  Ukiran relief yang terpahat di sepanjang lorong candi selain cantik secara artistik, juga bercerita tentang banyak pesan moral yang bersifat universal dan relevan hingga kini.

Ukiran dan pahatan relief cantik serta artistik di Candi Borobudur bahkan menjadi perangko nasional RI (Sumber Ilustrasi 6)

Kedua, Candi Borobudur jelas memiliki makna simbolik bangunan ditinjau dari sudut pandang agama dan spiritualitas Buddha dalam perjalanan kehidupan seorang manusia yaitu Kamadhatu (alam bawah/masih dipenuhi hawa nafsu), Rupadhatu (alam antara), dan Arupadhatu (alam atas/sebelum manusia mencapai nirwana).  Semakin ke atas bangunan candi dan stupa, maka semakin sederhana dan minimalis ukiran relief yang ada di sana.  Ini melambangkan bahwa dengan bertambahnya umur seseorang, maka idealnya dia menjadi lebih bijak dan tidak melulu mementingkan kehidupan duniawi serta mulai mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Pengunjung Candi Borobudur dapat menyaksikan festival lampion di malam hari saat Hari Raya Waisak (Sumber Ilustrasi 7)

Selain makna religi, pembangunan dan keberadaan Candi Borobudur juga merupakan simbol nyata hadirnya toleransi dan apresiasi antar umat beragama yang beragam di Indonesia sejak zaman masyarakat Jawa kuno.  Saat Candi Borobudur dibangun, terdapat dua dinasti kerajaan besar di Jawa yang sedang berkuasa dengan agama yang berbeda yaitu wangsa Sanjaya beragama Hindu Siwa (pembangun Candi Prambanan) dan wangsa Sailendra beragama Buddha Mahayana.  Namun, kedua kerajaan tersebut tetap bisa saling menghormati pembangunan candinya masing-masing tanpa saling mengganggu.  Di masa kini, baik di Jawa Tengah maupun di Indonesia, masyarakat muslim menjadi mayoritas.  Sekalipun begitu, syukur Alhamdulillah, keberadaan Candi Borobudur tetap dilindungi dan diapresiasi oleh segenap rakyat Indonesia.

Kelestarian dan keindahan Candi Borobudur memang harus selalu dijaga dengan perawatan berkala (Sumber Ilustrasi 8)

Ketiga, Candi Borobudur dapat dikatakan sebagai paket wisata lengkap di Jawa Tengah. Selain memiliki citarasa seni arsitektur yang luar biasa mengagumkan tekniknya, lalu juga berfungsi sebagai tempat ibadah, alam di candi dan sekitarnya pun tak kalah indah.  Bagi pecinta wisata alam, puncak Candi Borobudur dapat diabadikan dari kejauhan dengan mendaki jalan setapak bertingkat pada Bukit Dagi/Dagi Hill yang berada tepat sebelum Galeri Unik dan Seni Borobudur Indonesia (GUSBI) selama 5 menit saja.  Pemandangannya sangat sejuk dan hijau lho!

Lalu, inilah spot dan momen yang paling banyak diburu oleh para turis asing saat mengunjungi Candi Borobudur yaitu menikmati cahaya matahari terbit (sunrise) maupun matahari tenggelam (sunset).  Tak terkecuali oleh pendiri dan bos besar media sosial asal Amerika Serikat, Mark ‘Facebook’ Zuckerberg yang menyempatkan diri untuk menikmati memukaunya sunrise di Candi Borobudur pada Oktober 2014 lalu.  Uniknya lagi, orang terkaya nomor lima di dunia tersebut sempat menjadi fotografer dadakan untuk turis asing lainnya yang juga ada di sana.

 

Inilah salah satu orang terkaya di dunia yang terpukau dengan kemilau sunrise di Candi Borobudur (Sumber Ilustrasi 9)

Nah, bagaimana dengan Anda? Semakin tertarik untuk mengunjungi Borobudur dan Jawa Tengah (kembali) kan? Candi Borobudur akan semakin tepat dikunjungi ketika long weekend di bulan Mei nanti, tepatnya pada perayaan Hari Raya Waisak yang jatuh tepat pada hari Kamis, 11 Mei 2017.  Jikalau waktunya memungkinkan,  masih ada 4 candi lainnya di sekitar Candi Borobudur yang sangat layak untuk dikunjungi yaitu Candi Selogriyo, Pawon, Mendut, dan Ngawen.  Pastinya liburan di Jawa Tengah akan semakin berkesan setelah mengunjungi Candi Borobudur.  Berminat bertanya langsung ke Mark Zuckerberg via FB tentang kesannya di sana?

Seekor kucing kecil yang lucu pun turut ikut menikmati mahakarya legenda wisata di Jawa Tengah ini (Sumber Ilustrasi 10)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah”.

Kunjungi dan ikuti juga tautan berikut ini:

Pariwisata Jawa Tengah

Facebook Visit Jawa Tengah

Twitter Visit Jawa Tengah

Instagram Visit Jawa Tengah

Indonesia-Tourism Central Java

Visit Jawa Tengah

 


TAGS BlogJateng2017 LegendaPariwisata JatengGayeng VisitJawaTengah CandiBorobudur PariwisataJawaTengah SitusWarisanDunia JawaTengahIndonesia


-

Author

Search

Recent Post