Kartini dan Hari Bumi, dari Empati menjadi Inspirasi

23 Apr 2017


Sekolah Kartini yang berada di alam terbuka membuat para siswanya semakin mencintai lingkungan

(Sumber Ilustrasi 1)

Memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tak terkecuali Hari Kartini dan Hari Bumi yang diselenggarakan secara berturut-turut. Di Indonesia, Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April dan Hari Bumi Internasional (World Earth Day) sehari setelahnya atau 22 April 2017.

Bagi kaum wanita Indonesia, peringatan Hari Kartini setiap tahunnya lebih dari sekedar acara seremonial. Perjuangan Ibu Kartini seabad lampau untuk memperjuangkan kesempatan pendidikan yang setara bagi perempuan bumiputera tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan untuk wanita bangsawan sekelas Kartini sekalipun.

Terlahir dari keluarga priyayi (bangsawan Jawa), Kartini menyaksikan sendiri nasib ibu kandungnya yang dianggap sebatas mesin penghasil keturunan. Separah itukah kondisinya? Pasti begitu pikir kaum wanita modern saat ini. Tapi, itulah memang yang terjadi pada ibu biologis Kartini yang memang tidak berdarah biru layaknya sang suami atau ayahanda Kartini.

Demi menunjang karirnya, ayah Kartini pun menikah lagi dengan wanita bangsawan dan Kartini pun harus ‘menganggap’ ibu tirinya sebagai ibu kandung. Kartini muda dapat melihat sendiri, betapa ibu kandungnya – wanita non-bangsawan – harus memanggil putri kandungnya sendiri yaitu Kartini dengan sebutan ‘Ndoro Putri (Tuan Putri)’.

Siti Nurbaya - kiri berbaju batik - adalah wanita pertama yang menjabat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI sejak Oktober 2014 (Sumber Ilustrasi 2)

Kenyataan yang menyakitkan meskipun tampak sederhana karena (hanya) sebatas urusan pemanggilan nama. Toh, di dalam hati dan secara darah, bukankah Kartini selalu menganggap ibu kandungnya adalah wanita biasa yang bukan ningrat tersebut? Bisa jadi, itu anggapan banyak orang.

Namun, justru hal sesederhana itulah yang menimbulkan simpati dan empati dari seorang Kartini terhadap takdir ibunya dan juga dirinya kemudian. Sebagai wanita, Kartini dapat merasakan langsung, strategisnya peran seorang wanita sebagai seorang putri, isteri, dan juga ibu. Kalau tidak, mengapa ayahnya harus menikah lagi dengan istri keduanya demi peningkatan status sosial-ekonominya? Hal itulah yang menyadarkan Kartini bahwa di kehidupan ini, wanita adalah mitra setara pria.

Pernikahan Kartini sendiri kemudian pun bukan hanya melulu urusan romansa cinta dan mabuk asmara. Suami Kartini, Bupati Rembang, Raden Adipati Djojo Adiningrat, adalah pria yang dapat memahami sekaligus mendukung cita-cita mulia sang istri tercinta dalam memajukan kehidupan perempuan Nusantara. Maka, dibangunlah ‘Sekolah Kartini’ setelah mereka resmi menikah.

Saat ini, buah manis hasil perjuangan Kartini melalui pendidikan meluas ke banyak bidang lainnya. Salah satunya tentu saja bidang lingkungan. Wanita Indonesia patut berbangga bahwa sejak Oktober 2014, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk pertama kalinya dijabat oleh seorang kaum hawa yang juga alumni kampus hijau, IPB, dari Kota Hujan yaitu Ibu Dr. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.


Mak Eroh, Kartini lingkungan hidup  yang berniat sederhana untuk menyuburkan sawah di desanya
(Sumber Ilustrasi 3)

Posisi wanita di bidang pelestarian lingkungan hidup jelas sangat vital. Seorang ibu dapat membiasakan anak-anak dan keluarganya untuk hidup ramah lingkungan seperti tema Hari Bumi Internasional 2017 ini yaitu hal kecil berdampak besar seperti menghemat listrik dan air, memilih berjalan kaki atau bersepeda daripada naik kendaraan, mengurangi pemakaian kantong plastik, menanam tanaman hijau di lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi contoh sederhana namun nyata lainnya.

Sejarah harum wanita Indonesia – sebagai penerus Kartini – untuk membuat lingkungan dan bumi semakin nyaman untuk dihuni pun ternyata sudah cukup panjang. Tahun 1988 atau hampir 30 tahun lalu, seorang wanita desa sederhana dari Tasikmalaya – Jawa Barat, Mak Eroh, memperoleh penghargaan Kalpataru dari Presiden RI kedua kala itu, Presiden Soeharto, dan juga dari badan dunia, PBB.

Niat awal Mak Eroh bermula dari simpati dan empatinya agar sawah miliknya dan juga tetangga-tetangganya mendapatkan air dari saluran irigasi sederhana miliknya. Inilah salah satu (dari sekian banyak) kelebihan kaum wanita yaitu rasa peduli sesama yang tinggi demi kesejahteraan bersama.

Di era menjamurnya media sosial, jikalau Ibu Kartini masih hidup, beliau pasti berbangga dengan hadirnya Intan Syafrini, seorang relawan dari Sekolah Relawan. Di tahun 2015, mahasiswi asal Bogor – Jawa Barat tersebut termasuk tim relawan (sekaligus satu-satunya wanita) yang terjun langsung untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan. Suatu prestasi dan pencapaian yang mengagumkan!

Kartini dan relawan muda bernama Intan Syafrini ini tak gentar memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan bersama relawan pria lainnya (Sumber Ilustrasi 4)

Semoga, akan semakin bertambah lagi Kartini masa kini yang dengan semangat empati dan aksi emansipasinya mampu menghijaukan lingkungan sekaligus memajukan Indonesia. Sejatinya, wanita adalah partner setia dan terpercaya kaum pria sehingga kehadirannya mutlak dihargai dan diapresiasi.

 

 


TAGS HariKartini HariBumi EmansipasiWanita WanitaInspiratif LingkunganHidup MenteriSitiNurbaya MakErohKalpataru IntanSyafrini SekolahKartini opini


-

Author

Search

Recent Post